Dawud Abd's Weblog

Never Ending Learning

More About Me...

blank

Another Tit-Bit...

blank

Showing posts with label Motivation. Show all posts
Showing posts with label Motivation. Show all posts

Tangan Diatas ( Alyadul Ulya )

Mensarikan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di Hadist Bukhari Kitab Zakat :152, Nabi Muhammad bersabda : "Alyadul ulya khoirun minal yadis sufla". Yang artinya bahwa " Tangan diatas itu lebih baik dari pada tangan dibawah". Pada saat itu Nabi menyindir sohabat Hakim bn Khizam yang berulang kali meminta-minta tanpa malu kepada Nabi. Dan Nabi Muhammad dengan sifat rokhim-nya selalu memberi apa yang diminta oleh Hakim. Hingga suatu saat Nabi menegur dan mmberi nasihat, bahwa sebenarnya yang namanya harta itu hijau dan manis, maka barang siapa yang mengambil (menggunakan) harta dengan leganya hati, maka harta itu akan membarokahkan.

Sebaliknya bila memcari harta dengan rakusnya diri, maka harta itu tidak dibarokahkan sebagaimana orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang. Mendengar nasihat Nabi tersebut, Hakim pun berjanji sejak saat itu pula tidak akan meminta-minta lagi kepada siapapun sampai mati. Dan ternyata janji Hakim tersebut disaksikan sendiri oleh Abu Bakar dan Umar. Hakim bn Khizam tidak pernah meminta-minta lagi, bahkan diberi harta rampasan perang sekalipun.

Demikian hadist diatas yang menjelaskan bahwa tangan diatas itu lebih baik dari tangan dibawah. Maka bersyukurlah Anda yang sudah merasa menjadi TDA. Artinya Anda sudah hidup cukup atau berkecukupan (karena tidak semua orang cukup untuk memberi), Dan artinya pula bahwa paling tidak Anda termasuk golongan yang bisa memberi (sekali lagi karena tidak semua orang bisa memberi). Sekarang yang perlu ditekankan, Apakah Anda termasuk orang yang mau memberi? (karena bisa belum berarti mau). Memberi ternyata bisa menjadi hal yang susah dan berat, dorongan untuk terus memperkaya diri dan takut miskin menjadi salah satu sebab kenapa orang enggan memberi. Orang seperti itu tidak menyadari bahwa sebenarnya semua yang kita miliki di dunia ini hanya sekedar titipan, sebenaranya semua harta milik Alloh, kecuali pakaian yang sudah usang kita pakai dan makanan yang sudah kita makan.

Saya jadi ingat lagu pengamen di Bis yang antara lain berbunyi: " Sangu mati dudu mas rojo brono, dudu sawah tegal sing ombo, nanging iman ingkang sampurno". Ya bekal akhirat bukanlah harta mas berlian, maupun tanah atau sawah yang luas, tapi amal dan iman yang sempurna.
Harta yang kita miliki semuanya tidak akan ada yang dibawa mati. Kecuali harta yang sudah disodaqohkan sebagai amal jariyah. Untuk itu sudahkan Anda untuk ber-sedekah untuk mensucikan harta Anda? Karena bila kita memakan harta kita sebelum disodaqohkan sungguh seperti kita makan ayam mentah-mentah tanpa disembelih dan dibersihkan kotorannnya dulu.

Semoga segala upaya kita untuk berhasil tidak semata-mata demi kesuksesan dan kekayaan sendiri, namun demi bisa memberi sebanyak-banyaknya. Karena bila Anda bisa sangat banyak memberi, berarti Anda juga sangat banyak menerima. Mari bersedekah.. Karena bersedekah baik untuk hati Anda..
(sumber gambar: www.achcf.org)

Sujud Syukurku


Indahnya hidup ini kalau semua orang bisa bersyukur. Termasuk dan terutama adalah saya sendiri. Banyak obsesi, banyak keinginan-keinginan, permintaan, harapan, cita-cita, angan-angan dlsb yang terus membelenggu pikiran dan memaksa dagu terus menengadah. Kadang terasa berat sekali untuk mencoba menunduk dan melihat apa yang ada di sekililing kita yang mungkin akan sanagat membantu terwujudnya rasa syukur.
Syukur dengan semua yang sudah kita dapatkan sama sekali bukan berarti sebuah sikap pasif dan tidak mau berusaha. Namun paling tidak membantu kita untuk tidak rakus dalam dunia ini. Disebutkan bahwa pada dasarnya manusia tidak akan berhenti mencari dan mengejar obsesi dunianya sampai mulutnya dijejali tanah (mati maksudnya).
Alhamdulillah.. panjatkan selalu atas semua yang kita dapat, niscaya insyaAlloh akan terus memberi lebih. Bersyukur atas semua nikmat, rahmat, dan apapun itu.. Bahakan cobaan dan musibah sekalipun, karena semakin tinggi cobaan kita sebagai bukti bahwa Alloh telah manilai tinggi tingkat keimanan kita.

Face the Future

Beberapa waktu yang lalu ada dua orang temen sharing dengan masalalunya, menuturkan kisahnya hingga meneteskan airmata. Dua orang dengan case yang berbeda namun dengan efek yang hampir sama, yaitu kepesimisan. Semua akibat sebuah penilaian pada diri sendiri yang buruk dan tidak yakin dalam menatap masadepan. Serta prasangka pribadi yang menilai orang lain juga merendahkan dirinya. Yang satu akibat broken home dan over promise, yang satunya akibat penyakit klepto-nya.
Semua orang punya masa lalu, tapi kenapa masa lalu sering menjadi referensi dalam bagaimana menilai atau memperlakukan seseorang. Setiap orang yang berlaku salah akan tertitik noda hitam dihatinya, dan akan terus tertambah noda hitam tersebut sampai semuanya telah ditinggalkan, ditaubati dan tidak akan dilakukan lagi.
Semua amal yang terpenting adalah diakhirnya. Jadi kalau kita pernah melakukan salah, marilah kita tatap masa depan yang lebih baik. Pastikan kita tidak melakukan kesalahan yang sama lagi bahkan melakukan tindakan sekecil apapun yang mengarah kepada terulangnya kesalahan tersebut.Perbaiki diri sebaik mungkin, buktikan kepada semua orang bahwa kita telah menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari yang dulu. Bukan menutup diri dan larut dalam penilaian diri sendiri yang kurang baik.Jangan perduli penilaian orang terhadap kita, karena hal itu hanya semakin mendorong suudzon yang sebenarnya mungkin sangat jauh dari prasangka kita. Namun perdulilah akan penilaian Alloh pada kita, karena Alloh akan memudahkan jalan kita, memperbaiki masa depan kita, serta memuliakan kita kalau kita berkomitmen atas sikap kita. Mari tatap masa depan yang lebih baik dan lupakan masa lalu yang membelenggu optimisme.

Self Esteem (III)

Tulisan ini menyambung dua posting setema sebelumnya.
Seperti pada posting sebelumnya, ternyata memang benar bahwa ada dua karakter yang berbeda pada manusia perihal bagaimana pribadi membentuk harga dirinya masing-masing. Pakar psikologi menyebutnya ada pribadi dengan harga diri yang kuat (strong self esteem) dan juga ada yang lemah (weak self esteem).
Ciri pribadi dengan strong self esteem adalah mampu tampil percaya diri (self confidence) di setiap kesempatan. Dia juga mensetting hidupnya secara komprehensif untuk mencapai tujuan tertentu demi masa depan yang lebih baik (goal oriented). Selain itu, pribadi tersebut mampu menunjukkan sikap penghargaan terhadap orang lain seperti menghargai pada diri sendiri (appreciative) dan juga bisa merasa puas dan senang pada apa yang sudah didapat (contented).
Sedangkan ciri pribadi yang weak self esteem adalah sebaliknya. Dia selalu mudah mencela orang lain (critical) yang kadang hanya untuk menutupi bahwa dia juga lemah, tidak mampu dan tidak lebih baik. Orang seperti ini kadang justru susah menerima kritikan orang lain. Dia juga terkesan tidak sosialis atau sering mementingkan diri sendiri (self centered). Dia juga mudah sinis, iri dan bahkan mudah mengolok-olok pada apa yang didapat orang lain (cynical). Serta ada juga yang malu-malu dalam bersikap atau mengemukakan pendapat (diffident).
Mungkin dari pemetaan diatas, kita masih belum dapat memastikan dimana sebenarnya level sikap kita atsa harga diri. Mungkin Anda merasa bukan sebagai pribadi yang lemah, namun anda juga tidak yakin sudah mempunyai strong self esteem. Jangan menyalah artikan bahwa pribadi dengan harga diri kuat adalah orang yang sombong, eksklusif maupun sok jaim-jaga image. Namun pribadi yang bisa menilai dan lebih menghargai dirinya untuk mencapai pribadi yang terbaik dalam setiap bertindak, baik untuk diri sendiri maupun ornag lain. Dibawah ini adalah kiat-kiat untuk membangun dan mengembangkan sikap atau penilaian kita atas harga diri yang dapat disingkat sebagai GROWTH.
1.Goal setting (punya tujuan atau arah yang jelas dalam setiap bertindak)
2.Risk Taking (berani mengambil dan menghadapi resiko, sehinggo resiko tidak lagi bernilai sebagai penghambat namun sebagai tantangan, dan sekaligus sebagai oppportunity)
3.Opening up (membuka diri contohnya dengan sharing, inilah bukti bahwa pribadi seperti ini bukan orang yang eksklusif)
4.Wise-choice making (mampu mengambil keputusan sebijak mungkin dengan memperhatikan berbagai pertimbangan dan sudut pandang masalah)
5.Time sharing (berjalan sesuai dengan waktu, bisa fleksibel menghadapi perubahan waktu)
6.Healing (kiat terakhir yang berarti penyembuhan ini adalah dengan car komitmen dan thankful atau penuh rasa syukur dan yakin atas qodar dari Alloh).
Dari beberapa kiat diatas ditambah upaya mengurangi sikap yang mencirikan weak self esteem, tentunya diharapakan kita mampu menjadi pribadi-pribadi yang lebih percaya diri pada kemampuan sendiri. (disarikan dari CAI)

Know Your Self!

Sifat Dasar, Kenali Diri Sendiri.
Apakah anda sudah begitu faham sedetail mungkin tentang diri Anda sendiri. Seberapa jauh Anda mengenal diri sendiri? Suatu hal yang aneh bukan, jika kita bisa dengan mudah mendikte dan mengenali karaketristik orang lain, namun sulit memahami diri sendiri.
Dari referensi ada empat tipe kepribadian, yaitu analytical, driver, amiable dan expressive. Anda mungkin masuk disalah satu tipe tersebut. Dibawah ini adalah nilai positif dan negatif dari keempat tipikal tersebut. Anda bisa memahami namun tidak untuk diam, Anda harus mengurangi dan meminimkan sisi negatif Anda dan terus memacu nilai positif Anda. Be a better personal!

Analytical
Positif: Berpikir dalam, serius, detail. Cerdas, kreatif, berbakat, idealis. Menyukai keindahan. Peka terhadap orang lain.
Negatif: Mengingat kekurangan atau hal buruk. Terlalu introspective, orientasi diri. Terlalu banyak merencanakan. Lamban untuk memulai.

Amiable
Positif: Tenang, konsisten, sabar, humoris. Simpati, ramah, bergaul, pendamai. Rapih, kompeten, selalu siap. Tahan tekanan, administratif, mediator.
Negatif: Tidak antusias, khawatir. Tidak terlibat dalam pekerjaan. Tidak goal oriented. Kurang motivasi, kurang semangat.

Expressive
Positif: Menarik, gembira, senang berbicara. Mudah bergaul, spontan. Energic, kreatif, colorful. Inspiratif, cepat memulai.
Negatif: Sulit mengontrol, mudah emosi. Ingin populer, mendominasi, tidak bisa sendiri. Kurang disiplin,terlalu banyak bicara. Banyak alasan, egois.

Driver
Positif: Kepemimpinan, dinamis, aktif. Organisator, kompak. Goal oriented. Wawasan luas, praktis.
Negatif: Bossy, temperamental, tidak sabar. Tidak bisa rileks, argumen. Mendominasi, memanfaatkan orang. Tidak teliti, kasar, tidak toleran.

Becoming a Better Listener

Tuhan 'memecah' wajah manusia dengan berbagai indera sehingga menjadi tidak rata dan lebih berguna. Indera-indera seperti mata, hidung, mulut dan telinga justru paling dominan membentuk karakteristik seseorang. Keindahannya akan mempengaruhi ketampanan dan kecantikan seseorang.Namun sebenarnya ada yang lebih penting dari sekedar bentuk dan rupa, yaitu fungsi indera itu sendiri. Bagaimana kita menggunakan indera-indera tersebut dengan sebaik dan sebijak mungkin. Seorang guru SD ataupun orang tua mencoba bertanya pada muridnya atau anaknya, Kenapa Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut. Sambil bernasihat mereka menjelaskan bahwa itu artinya kita musti lebih banyak mendengar daripada berbicara. Bukan berarti kita tidak boleh proaktif, namun kita diharapkan lebih menghargai sebuah proses "mendengar" yang sering terlalaikan. Manusia terkesan lebih suka berbicara daripada hanya mendengar, memerintah daripada dinasihati dan lebih senang menguasai pembicaraan.

Hal inilah yang menjadi tantangan seorang pemimpin, jiwa ledership kadang mengabaikan sebuah proses mendengar. Menurut John Baldoni dalam sebuah website yang membahas tentang leadership, tips pertama untuk menjaga dan menumbuhkan jiwa leadership dalam diri kita adalah menjadi pendengar yang baik. Karena dengan mendengar yang baik, selain bisa lebih memahami permasalahan, wujud menghargai pembicara, namun juga memberi kesempatan lebih pada diri kita untuk mengexplore pemikiran kita sehingga bisa lebih matang dalam memberi komentar, jawaban maupun solusi.

Dibawah ini adalah langkah-langkah untuk menjadi pendengar yang baik:
1. Buatlah kontak mata yang bersahabat (friendly eye contact) dengan pembicara atau orang yang sedang bicara.
2. Hargailah pembicara dengan bahasa tubuh yang penuh perhatian
3. Jangan suka memotong pembicaraan
4. Mengangguklah sebagai pertanda setuju pada apa yang dikatakan pembicara
5. Sesekali berikanlah pertanyaan pada waktunya
6. Pahami dengan cermat pernyataan pembicara
7. Berilah jawaban atau komentar disaat permasalahan sudah lebih jelas tersampaikan

Ingat, orang yang banyak bicara bukan berarti lebih pandai dan berkuasa. Justru orang yang aktif bicara, kadang hanya kamuflase untuk menutupi kebodohan dan kelemahannya. Sebaliknya, dengan menjadi pendengar yang lebih baik justru akan tersirat wibawanya. Namun pendengar yang baik tidak diartikan sebagai orang yang lebih banyak mendengar, bahkan mengarah ke 'yes-man', namun orang yang tahu dan paham kapan saat yang tepat untuk berbicara dan kapan saatnya mendengar. Let's we try to be a better listener..

Best Decison in Hard Choices

Saya kira semua orang pernah dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Dan membutuhkan sebuah pemikiran yang mendalam untuk mencermati, menelaah, memahami serta kemudian memilih yang terbaik dari berbagai opsi yang tersedia. Tentunya akan dicari sebuah pilihan yang paling mendekati kata hati kita, meski seringkali kita sudah mencari berbagai masukan dari orang-orang terdekat. Semua pilihan memiliki resiko dan konsekwensi sendiri-sendiri, namun yang kita pilih tentunya adalah pilihan yang resikonya sejak awal bisa kita eliminir sesaat, paling tidak tidak mengurangi keyakinan saat kita akan mengambil keputusan.

Kalau kita sadari, banyak hal dalam hidup kita yang membutuhkan keputusan sekejap, naluri kita akan dilatih utuk membuat fast but smart decision. Kemampuan naluriah atau dikenal "The Power of Thinking without Thinking", adalah keputusan - keputusan yang sering diambil berdasarkan perasaan tertentu atau "hunch" atau firasat seseorang. Naluri yang sering dibilang sebuah daya intuisi inilah yang kadang sangat diandalkan saat menghadapi masa sulit. Dalam sebuah penelitian memperlihatkan bahwa para pemimpin perusahaan yang unggul dalam mengambil keputusan biasanya menggunakan belahan kanan otaknya - sisi intuisi - sebanyak 80%. Intuisi bisa diartikan sebagai "feeling", perkiraan, spekulasi, imajinasi atau kreativitas. Namun bukan berarti keputusan yang terburu-buru tanpa pertimbangan wawasan dan experience yang sudah matang (impulsif).

Intuisi tidak akan selalu benar, namun paling tidak akan sedikit membantu dalam membuat kriteria dan mempersempit permasalahan. Doa tentunya harus mengiringi pilihan kita. Kadang tidak akan ada pilihan yang terbenar, namun jadikan pilihan kita adalah yang terbaik bagi kita. Satu lagi, jangan pernah larut menyesali pilihan kita, apapun hasilnya itu adalah buah dari kata hati kita, kita perlu hargai dan tetap terus berbenah. Will be best or worst..It's ur decision

Personality Inventories

Seringkali, beberapa teman saya beranggapan bahwa saya adalah tipikal pribadi yang introvert, namun temen-temen saya yang sdh akrab menyangkal karena menurutnya, saya justru berkarakter lumayan extrovert. Berawal dr beberapa point of view tersebut, saya mencoba menggalinya dengan mensarikan bukunya Noe tentang The Five Major Dimensions of Personality Inventories.

Menurutnya ada lima karaketristik utama pada pribadi seseorang, yaitu:
1. Extroversion (mementingkan hal-hal lahiriah)
Yaitu orang yag mempunyai ciri-ciri karakter sociable (peramah dan suka bergaul), gregarious (suka berteman, berkumpul, berinteraksi dan berorganisasi), assertive (tegas), talkactive (aktif berbicara) dan expressive
2. Adjustment (menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya)
Orang seperi ini biasanya berkarakter tenang, santai, emotionally stable, nondepressed, secure (merasa aman dan terjamin) dan content (merasa senang dan puas dengan apa yang sudah diraih)
3. Agreeableness (ramah dan menyenangkan)
Pribadi yang courteous (sopan santun), trusting (penuh kepercayaan), good-natured (berbudi pekerti dan baik hati), tolerant (sabar dan bersikap toleran), cooperative (bisa bekerjasama dengan baik), dan forgiving (pemaaf atau mudah memaafkan)
4. Conscientiousness (waspada dan berhati-hati)
Karakter yang dependable (dapat dipercaya dan diandalkan), organized (mampu mengatur atau mengorganizir), persevering (tekun), through dan achievement-oriented (berorientasi pencapaian hasil)
5. Inquisitiveness (ingin tahu)
Personality yang curious (mempunyai rasa keingintahuan yang lebih), imaginative (mudah berimaginasi), artistically sensitive (lumayan peka), broad-minded (luas pendirian) dan playful (suka bermain, melucu atau humoris)

Nah, dari 5 dimensi diatas, ternyata terdapat karakteristik extrovert, bahkan dalam penjelasannya cukup mencolok perbedaannya dengan 4 karakter selanjutnya sehingga bisa dengan mudah mengidentifikasinya. Sedangkan introvert tidak terklasifikasi dengan jelas, walau mgkn bisa dimasukkan adjustment atau agreeableness. Seseorang yang introvert disuatu kesempatan bisa saja berubah menjadi extrovert, begitu juga sebaliknya. Jadi introvert-extrovert bukanlah baik atau buruk, tidak extremely bertolak belakang seperti cerewet dan pendiam dan tidak bisa dengan mudah disederhanakan sebagai proaktif-pasif.
Kepribadian memang suatu yang bias. Orang yang dikenal baik, ramah dan penuh kasih sayang, tiba-tiba tega membunuh orang. Seorang panutan warga tidak disangka-sangka ternyata melecehkan anak dibawah umur. Atau sebaliknya seorang preman ternyata gemar bersedekah. Memang tidak ada yang aneh di jaman sekarang.. Sebelum mengenali kepribadian seseorang, coba kita fahami kepribadian kita sendiri. Bisa saja kita mempunyai pribadi yang melebar dan susah ditebak. Asal kita tidak suka berdiri sebagai pribadi yang bukan diri kita sebenarnya. Munafik.. itulah julukan yang sering diberikan pada orang yang bermuka dua.
Jadi, cenderung masuk karakteristik pribadi yang mana..itulah anda..pribadi yang memang tidak ada duanya di dunia ini..

Do it now!

Entah kenapa hari ini saya teringat dengan salah seorang saudara saya.. Dia adalah seorang bapak yang hidup sederhana dan sangat menyayangi keluarganya. Sehari-hari dia bekerja sebagai mekanik pada sebuah bengkel sepeda motor. Di suatu pagi (beberapa tahun yang lalu), seperti biasa dia menyempatkan sarapan pagi bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Pada saat makan, dia melihat anak bungsunya yang masih berumur 3 tahun sedang bermain korden/selambu yang terpasang di salah satu pintu kamar. Korden tersebut sudah dalam keadaan sobek dan berlubang di tengahnya, lubang tersebut dijadikan tempat sandaran leher kepala anak itu untuk dimainkan dengan sambil mengayun-ayunkannya badannya. Sambil tertawa, anak tersebut terus bermain-main dengan kakaknya.
Masih di meja makan, bapaknya ikut senyum melihat permainan anak bungsunya tersebut. Namun dalam hatinya terbersit pemikiran bahwa korden yang dia miliki sudah sobek dan nggak layak untuk dipasang, dan bahkan bisa berbahaya bila terus dipakai buat mainan anakanya. Dan dia berencana segera melepas korden tersebut dan menggantinya dengan yang baru. Namun keingin tersebut ditundanya, karena dia harus buru-buru berangkat kerja.
Setelah dua jam dia berada di tempat kerja yang gak terlalu jauh dr rumahnya, dia mendengar kabar buruk bahwa anak bungsunya tersebut meninggal karena terjerat lehernya dikorden yang sobek tersebut. Pada saat itu ibu dan kakaknya sedang diluar rumah, jadi tidak melihat anak bungsunya tersebut tidak bisa bernafas karena terjerat dan tergantung oleh korden itu. Bapaknya pun sangat shock mendapati kenyataan tersebut. Ternyata keinginannya yang tertunda untuk segera melepas korden tersebut mengakibatkan dia kehilangan salah satu buah hatinya..
Moral cerita ini:
Segera lakukan ide, ilham maupun pemikiran anda yang sekiranya mampu mencegah hal-hal yang beresiko atau bisa berakibat fatal. Bukan berarti terlalu mudah berprasangka buruk ataupun terlalu mengada-ada dan berpikiran yang nggak-nggak, namun sikap berhati-hati dan waspadalah yang sebenarnya bisa menjadikan hidup kita lebih terhindar dari hal yang tidak kita inginkan. Ingat, penyesalan selalu datang terlambat.. dan penyesalan yang paling menyakitkan adalah penyesalan akibat sebuah penundaan. So, do it rightnow!
(original posting at ceritabijak.blogspot.com on des'05)

The Greatness of 'Asmaul Husna'

Image hosting by TinyPic
Begitu mudahnya manusia mengingat seribu nama-nama temannya, nama-nama pemain bola profesional, atau bahkan menghafal lirik-lirik lagu baru yang diluncurkan oleh sang penyanyi idola. Namun sangat ironis bila manusia yang kecil dan hina di mata Alloh ini tidak mengenal nama-nama Alloh yang menciptakannya. Sungguh tak tahu diri, kalau menurut saya.. Mari kita menghafal 99 nama Alloh, membacanya dan menyebutnya dalam doa di setiap kesempatan, karena kita akan merasa nyaman dan selalu dekat dengan-Nya. Disebutkan bagi siapa yang menghafalkan, memahami dan mengamalkannya maka wajib baginya surga. Tentunya dengan tetap dibarengi dengan ketaqwaan pada-Nya. "walillahi asmaul husna, fad'uhu biha"

Self Esteem (II)

The degree to which people like or dislike themself. Itulah definisi self-esteem. Self esteem sangat dipengaruhi dengan self respect, sebuah penilaian dan rasa hormat dari orang lain yang sering kita jadikan parameter tentang value pribadi kita. Self esteem terbentuk dari self image dan self confident. Yaitu sebuah kondisi image dan confident yang kita set maupun kita harapkan menjadi characteristic kita. Kadang tidak kita sadari, harga diri seolah-olah bergeser. Ini dipengaruhi tingkat kesan dan kepercayaan diri yang fluctuative pada suatu situasi, kondisi maupun komunitas.
Ada tiga penilaian sebuah harga diri dari sudut pandangnya. Yang pertama adalah reality self, merupakaan fact value atau nilai diri kita yang sebenarnya. Kemudian ideal self, sebuah kondisi yang menjadi bayangan dan impian yang diinginkan, biasanya adalah sebuah dream figure yang tentunya lebih baik. Dan yang terakhir adalah social self, sebuah pandangan atau penilaian orang lain pada diri kita. Social self seringkali berbeda-beda, namun yang pasti adalah menjadi pandangan yang lebih obyektif yang memberi penilaian pada point-point yang sering tidak kita sadari dan sulit kita akui.
Untuk memanage harga diri, kita harus menyadari reality self, mempertimbangkan social self dan tetap berupaya mencapai titik ideal self. Jangan sampai muncul gap maupun discrepancy yang terlalu lebar antara diri kita yang sebenarnya dengan apa yang kita inginkan.
Salah satu hal yang sangat dominan mempengaruhi harga diri adalah mulut atau perkataan. Seringkali mulut dianggap lebih tajam dari pisau. Karena mulut mampu merobek-robek hati dan perasaan orang lain jika tidak kita jaga. Benar orang jawa bilang, "Ajining diri gumanthung ana ing lathi, ajining raga gumanthung ing busana"

Category: Motivation

Self Esteem

Sebuah Penghargaan seringkali menimbulkan pro dan kontra. Karena kadang seseorang dianggap kurang atau belum sepantasnya meneriwa award tersebut. Sebuah Penghargaan seringkali menjadi acuan dan motivasi untuk diraih sebagai hasil prestasi dan akan menjadi kepuasan tersendiri. Karena pada dasarnya manusia memang senang mendapat pujian dari orang lain. Namun sebenarnya ada yang lebih mendasar lagi, yaitu penghargaan pada diri sendiri.
Self appreciation bukanlah akar dari kesombongan, dan tidak ada kaitannya dengan paham narsis (narcissism : kecintaan pada diri sendiri yang berlebihan) dan tidak bertentangan dengan sifat humble atau kerendah hatian. Namun sebuah penilaian yang wajar dan jujur pada diri sendiri yang bermuara pada confident level. Self esteem akan menuntun kita dimana dan seperti apa kita harus memposisikan diri kita dalam setiap langkah.
Tidak menghargai diri sendiri adalah sebuah kelemahan yang mendasar pada diri manusia. Kadang seseorang yang pernah mengalami penghinaan, pelecehan, agitasi, dan traumatic yang mendalam bisa menjadikan seseorang merasa priceless dan sadar maupun tidak sadar mensetting dirinya dengan kondisi tersebut. Bahkan terkesan mudah apriori dengan manganggap orang lain akan menilainya valueless.
Yah.. salah besar kalau ada pribadi yang larut dalam under estimated pada diri sendiri. Berbenahlah yang seharusnya dilakukan. Refresh the life dengan sebuah penilaian dan pemikiran-pemikiran baru. Bagaimana mungkin orang lain akan menghargai dan menilai lebih seseorang, jika orang tersebut tidak menghargai diri sendiri. Be your self by apreciate your self..!

Wise Story

Banyak yang bilang, pengalaman adalah guru yang terbaik. Kita bisa belajar melewati problematika kehidupan dengan belajar dari sebuah pengalaman. Baik pengalaman pribadi maupun orang lain. Banyak orang ragu melakukan suatu hal karena takut akan resikonya, tidak berusaha menepis keraguannya dengan meyakinkah bahwa apa yang kita akan kerjakan akan sangat berarti kedepannya, yah.. minimal sebuah pengalaman. Namun bukan berarti kita bebas gegabah bertindak suatu hal tanpa berpikir lebih dalam dan jauh. Dan sekali lagi, bukan berarti kita terlalu berpikir panjang dan berbelit-belit dalam mengambil sikap. Semua hal harus disikapi dengan bijak, tidak terlalu ngalor ngidul namun juga tidak grusa-grusu. Untuk itulah mari kita belajar dari cerita-cerita dan kidah-kisah bijak yang sudah dilalui dan ditauladani oleh orang-orang disekitar kita. Agar kita tidak melakukan hal bodoh yang seharusnya tidak kita jalani, dan juga tidak melakukan hal yang lebih bodoh, yaitu mengulangi kesalahan yang sama. Tidak ada keledai yang terantuk batu yang sama. Bukankah kita jauh lebih berakal dan berotak dari seekor keledai... So, don't repeat the same mistakes..!!
wish to be wise guys... click on http://ceritabijak.blogspot.com